SISTEM OPERASIONAL ASURANSI SYARIAH

Didalam ekonomi syariah (muamalah syariah) selain kita mengenal Bank Syariah , Asuransi Syariahpun merupakan bagian daripada muamalah. Asuransi adalah perlindungan suatu nilai ekonomi, nilai ekonomi disini bisa dilihat dari manusia sebagai sumber ekonomi yang dapat menghasilkan uang atau bisa juga barang atau benda yang mempunyai nilai ekonomi seperti rumah, mobil dan lain-lain. Perbedaan mendasar mengapa asuransi syariah sangat disarankan bagi setiap muslim dibandingkan dengan suransi konvensional salah satunya secara substansial asuransi syariah lebih memudahkan dan menguntungkan bagi peserta asuransi . Pada asuransi konvensional akad utamanya adalah jual beli, bila Anda tidak menclaim sampai waktu habis ( jatuh tempo ) maka premi Anda akan hangus . Dari awal akad, ketika premi diserahkan kepada perusahaan asuransi konvensional, maka  perusahaan akan mencatatnya sebagai sebuah pendapatan yang akan menjadi penambah keuntungan (laba) pada laporan laba rugi perusahaan asuransi syariah. Premi yang Anda serahkan kepada perusahaan asuransi konvensional sebagai dana penjagaan untuk kejadian tidak terduga yang mengandung resiko besar untuk hidup Anda bukanlah milik anda tetapi milik perusahaan. Bila kita bayangkan sistem ini mirip seperti tabungan, hanya kalau tabungan kapanpun bisa di ambil, sedangkan premi yang dibayarkan kepada asuransi syariah tidak akan dapat cair sebelum ada claim, tentusaja claim harus sejalan dengan kebenaran akan kejadian yang telah diasuransikan.

            Pada Asuransi Syariah akad utamanya adalah tolong menolong. Kita sebagai umat manusia diwajibkan untuk saling tolong menolong atau saling membantu. Hal ini sangat jelas tersurat dalam Qs Al Maidah:2 “…dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya”. Ketika ada premi yang dibayarkan, maka peserta telah mengamanahkan perusahaan asuransi syariah untuk mengelola resiko. Atas pengelolaan resiko tersebut maka perusahaan hanya akan mendapatkan fee (ujroh). Premi yang Anda bayar adalah milik Anda, tidak langsung dicatat sebagai pendapatan pada laporan laba/rugi perusahaan asuransi syariah tetapi sebagai dana tabarru ( milik peserta asuransi syariah). Apabila terdapat claim, maka peserta berhak mendapatkan dana tabarru. Karena premi yang dibayarkan akad utamanya adalah tolong menolong maka premi tersebut diakui oleh perusahaan tidak sebagai pendapatan tetapi akan masuk pada Laporan Surplus Defisit Underwriting (LSDU), tidak masuk pada laporan laba/rugi perusahaan. Didalam premi tersebut ada hak (fee) untuk perusahaan maka hak (fee) tersebut akan dicatat sebagai pengurang dana tabarru (beban ujroh). Dan yang masuk dalam laporan laba/rugi perusahaan asuransi syariah adalah pendapatan ujrohnya yang sudah dikurangkan dari premi. Berikut adalah sumber pendapatan Perusahaan Asuransi syariah :

1. Ujroh(fee)

2. Bagi hasil investasi

3. Surplus (premi 1 periode lebih besar dari claim peserta)

4. Modal sendiri

            Apabila dana tabarru tersebut tidak mencukupi claim yang diajukan para peserta asuransi syariah maka cara yang pertama adalah dibayarkan dari dana cadangan tabarru periode sebelumnya, apabila masih belum mencukupi maka akan ditalangkan oleh perusahaan asuransi syariah dengan Akaq Qord ( pinjaman tanpa return) dan nantinya akan dikembalikan oleh poeserta dari premi-premi selanjutnya.

By : Muthmainnah Fillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s